Beberapa kegiatan di kampung belakangan terasa berbeda.
Kegiatannya masih berjalan. Tidak ada kejadian besar. Hanya saja, suasananya kadang tidak seramai yang saya ingat.
Mungkin orang sedang sibuk. Ada pekerjaan, urusan keluarga, atau hal-hal yang memang tidak perlu diceritakan kepada tetangga. Saya bisa memahami semuanya.
Setidaknya, saya pikir begitu.
Sebab ada kalanya pekerjaan tidak benar-benar membutuhkan kehadiran seseorang. Semuanya tetap bisa selesai. Tetapi entah mengapa, saya masih berharap ia datang.
Untuk apa, sebenarnya?
Barangkali hanya ingin bertemu. Barangkali ada sesuatu dari kebersamaan yang tidak bisa digantikan oleh selesainya sebuah pekerjaan.
Saya belum bisa menjawabnya dengan pasti.
Di kampung, harapan semacam itu juga sering ditujukan kepada Pak RT atau Pak RW. Sebuah kegiatan bisa saja sudah berjalan, tetapi orang tetap menunggu mereka hadir.
Saya mengerti. Namun saya juga punya harapan sendiri.
Kalau suatu hari saya atau Pak RW berhalangan, saya ingin kegiatan tetap berjalan. Tanggung jawab kami tentu tidak hilang. Hanya saja, saya ingin orang-orang tidak harus selalu menunggu kami untuk mulai bekerja bersama.
Rasanya, di situlah sebuah organisasi perlahan menjadi kuat: ketika pekerjaan bersama tidak berhenti hanya karena seseorang tidak ada.
Pada pertemuan RT tanggal 17 Oktober, saya mencoba menyampaikan pikiran itu. Pak RW duduk di samping saya.
Saya bicara tentang banyak cara untuk ikut mengambil bagian. Ada yang membantu dengan tenaga, ada yang memberi pikiran, materi, atau doa. Kehadiran memang berarti, tetapi bukan satu-satunya cara orang menunjukkan kepedulian.
Saya juga menyinggung teman lama dan teman baru. Bertambahnya pergaulan dan organisasi mestinya tidak membuat kita melupakan lingkungan yang selama ini dekat dengan kita.
Saya tidak mendengar keberatan atau tanggapan lanjutan. Sesudahnya, saya merasa sedikit lega.
Tetapi ada yang tidak mudah saya sampaikan malam itu. Menjelaskan bagaimana kegiatan sebaiknya berjalan ternyata lebih mudah daripada menjelaskan semua yang saya bawa dalam hati.
Apalagi nasihat Pak RW yang saya tanggapi itu berkaitan dengan saya sendiri.
Beberapa kali saya tidak hadir dalam gotong royong.
Saya kira saya tahu sebabnya.
Mungkin saya hanya terlalu berharap.
Sudah berkali-kali saya mengingatkan diri agar tidak menggantungkan terlalu banyak harapan kepada manusia.
Namun, rupanya saya masih saja melakukannya.
Dan ketika harapan itu tidak sampai, justru saya sendiri yang memilih tidak datang.
Orang lain bisa melihat bahwa saya tidak hadir. Tetapi mereka belum tentu tahu apa yang saya rasakan.
Lalu ketika saya melihat orang lain tidak hadir, apa yang sebenarnya saya ketahui?
Saya pernah memikirkan untuk berhenti menjadi ketua RT. Namun, bahkan setelah jabatan itu selesai, orang-orang yang pernah saya tunggu kehadirannya tetap akan menjadi tetangga saya.
Kami akan tetap hidup berdekatan.
Saya tahu apa yang pernah membuat saya tidak datang.
Tentang mereka, saya belum tahu.